ENGLISH LEARNING CORNER

Never Give up Learning
 
IndeksIndeks  AbudiraAbudira  CalendarCalendar  GalleryGallery  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  PendaftaranPendaftaran  GroupGroup  Login  

Share | 
 

 Larangan Melakukan Bid'ah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
minbar global indo
Anggota Aktif
Anggota Aktif


Jumlah posting : 32
Registration date : 13.03.14

PostSubyek: Larangan Melakukan Bid'ah   Thu May 01, 2014 11:59 pm

Larangan Melakukan Bid’ah
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap  tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada  tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha
Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah  hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:  ”Alif laam miim shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan  kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya,  supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan  menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang  diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti  pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran  (daripadanya).” (QS. Al-A’rof: 1-3).  
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang  mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Al-Syuro: 21)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiallahu ‘anha  bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Barang  siapa yang membuat perkara-perkara baru di dalam agama ini yang tidak  ada dasarnya dari agama ini maka dia akan tertolak”
Dan bid’ah adalah segala perkara yang baru di dalam syara’ yang  tidak ada dalilnya. Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam  bersabda, “Dan perkara yang terburuk dalam agama ini adalah perkra-perkara yang baru, dan setiap yang baru di dalam agama ini adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka”
Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa  yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya adalah  tertolak”
Dan Ibnu Rajab berkata dalam mensyarah hadits ini, “Dan ini adalah salah  satu pondasi Islam yang agung, dan seperti barometer bagi amal-amal  ibadah yang sifatnya lahiriyah sebagaimana hadits yang menyatakan: “Sesungguhnya setiap perkara itu tergantung dari niatnya”. Adalah  barometer bagi amal-amal yang sifatnya bathiniyah, sebagaimana setiap amal ibadah yang tidak didasarkan pada mengharap ridla Allah semata  maka orang yang mengerjakannya tidak mendapat pahala apa-apa, begitu  juga dengan amalan yang tidak ada dari tuntunan Allah dan Rasul -Nya  pada amal ibadah tersebut maka dia akan dikembalikan kepada orang yang  mengerjakannya, dan setiap orang yang membuat perkara-perkara baru dalam urusan agama yang tidak pernah diizinkan oleh Allah maka dia bukan termasuk bagian dari agama tersebut”.
Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini termasuk salah satu pondasi hukum  Islam, salah satu dasar hukum di dalam Islam, oleh karena itu barangsiapa  yang membuat-buat perkara baru dalam urusan agama yang tidak  didasarkan pada salah satu dasar hukum Islam maka perkara baru  tersebut tidak dilihat”.
Imam Nawawi berkata, “Hadits ini harus dijaga dengan mengahafalnya dan  menggunakannya untuk mengingkari berbagai kemungkaran serta  menjadikannya sebagai dalil dalam banyak perkara”.
Al-Tharqi berkata, “Hadits bisa disebut dengan setengah dalil syara’”.   Ibnul Qoyyim berkata, “Jika hati itu menyibukkan diri dengan bid’ah maka  dia akan berpaling dari perkara yang sunnah”.
Diriwayatkann oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Jabir radhiallahu  ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda di  dalam sebuah khutbah jum’at, “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan  adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi  Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam dan seburuk-buruk perkara adalah  perkara-perkara yang baru dalam urusan agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat”.
Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: Dan telah ditegaskan  bahwa para shahabat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam dan generasi salafus shaleh, memperingatkan agar tidak terjebak ke dalam  bid’ah dan mengancam perilaku bid’ah, semua itu dilakukan karena bid’ah  adalah tambahan baru pada agama dan tambahan syari’at yang tidak  diizinkan oleh Allah Azza Wa Jalla, dan hal ini menyerupai musuh-musuh  Allah dari kalangan Yahudi dan Nashrani dalam tindakan mereka yang menambah-nambah perkara agama mereka, dan membuat perkara-perkara  baru dalam urusan agama yang tidak diizinkan oleh Allah. Sebab dengan  menciptakan perkara yang baru berarti menganggap ada sesuatu yang kurang dalam agama Islam ini dan mengklaim bahwa Islam ini tidak  sempurna, maka dengan ini tidak dapat dimaklumi bahwa begitu besar nilai  kerusakan (membuat perkara baru dalam urusan) agama ini dan begitu  keji kemungkaran tersebut, yaitu kemungkaran yang berbenturan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah  Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama  bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Serta bertentangan secara terang-terangan dengan hadits Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wasalam yang memperingatkan akan bahaya bid’ah dan  memerintahkan untuk menghindarinya”.
Dan Ibnu Mas’ud telah melewati sekelompok kaum yang sedang  menunggu shalat dan mereka berkelompok-kelompok membentuk lingkaran, , dan pada setiap kelompok terdapat seorang lelaki dan ditangan  mereka terdapat batu-batu, salah seorang lelaki berkata kepada mereka,  “Bertasbihlah seratus kali, maka merekapun bertasbih, bertakbirlah seratus  kali maka merekapun bertakbir seratus kali, tahlillah sejumlah seratus kali  maka merekapun bertahlil seratus kali. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “Hitunglah dosa-dosa kalian, sungguh aku menjamin bahwa kebaikan-kebaikan kalian tidak akan hilang sedikitpun. Alangkah celakanya kalian  wahai umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam secepat itukah  kehancuran kalian. Banyak para shahabat Nabi Muhammad shalallahu  ‘alaihi wasalam yang masih hidup dan ini pakian beliau Muhammad  shalallahu ‘alaihi wasalam belum terkoyak, bejana-bejananya belum pecah.  Demi yang jiwaku berada di tangan -Nya apakah kalian berada pada ajaran  agama yang lebih lurus dari ajaran agama Muhammad atau kalian justru  membuka pintu kesesatan?. Mereka menjawab, “Demi Allah wahai Abu  Abdurrahman kami tidak meninginkan kecuali kebaikan. Maka dia  menjawab: Banyak orang yang menginginkan kebaikan namun dia tidak  mendapatkannya”.
Dan para ulama berkata, “Dan setiap amal yang dijadikan sebagai  taqarrub kepada Allah hendaklah memenuhi dua syarat utama:
Pertama: Ikhlas karena Allah semata. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan  Muslim di dalam kitab shahihnya dari Umar bin Al-Khattab radhiallahu  ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,  “Sesungguhnya setiap perkara itu tergantung dari niatnya dan setiap orang  akan mendapat seperti apa yang diniatkannya, barangsiapa yang berhijrah  karena Allah dan Rasul -Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul -Nya  dan barangsiapa yang berhijrah untuk mendapat dunia atau untuk menikahi  seorang wanita maka mendapat apa yang menjadi niat hijrahnya tersebut”.
Kedua: Mengikuti sunnah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam.  Dan mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam ini tidak terwujud  kecuali jika terpenuhi enam perkara:  1. Sebab: Maka jika seseorang beribadah kepada Allah sebuah ibadah yang  didasarkan pada sebab yang tidak disyari’atkan maka ibadah tersebut  tertolak dan dikembalikan kepada pelakunya. Misalnya orang yang  menghidupkan malam dua puluh tujuh rajab dengan berbagai macam ibadah seperti tahajjud dengan alasan bahwa malam itu adalah malam  isro’ dan mi’rajnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Tahajjud  adalah sunnah, namun didirikan dengan alasan bahwa ibadah tersebut  dilakukan dengan dorongan tersebut, maka perbuatan ini menjadi  bid’ah, sebab dia telah menegakkan ibadah ini dengan sebab yang tidak  dilandaskan oleh syara’. Maka dengan ini tampaklah perbuatan bid’ah  orang yang menganggap menghidupkan malam kedua puluh tujuh  adalah sunnah padahal dia tidak termasuk sunnah. Di antara contoh yang lain adalah bid’ah merayakan perayaan maulid Nabi Muhammad  shalallahu ‘alaihi wasalam. Sebab di adakannya perayaan ini tidak disyari’atkan, tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad shalallahu  ‘alaihi wasalam dan para shahabat serta orang yang hidup pada masa generasi yang mulia, dia dibuat-buat oleh orang-orang Ubaidiyah yang  bermazhab syi’ah rafidhah pada saat mereka menguasai Mesir abad ke sepuluh.
2. Jenis. Jenis ibadah tersebut harus sesuai dengan syara’. Dan seandainya  seseorang beribadah dengan suatu ibadah yang jenisnya tidak  disyari’atkan maka ibadah itu tidak akan diterima. Contohnya adalah seseorang menyembelih seekor kuda kurban maka kurbannya tidak sah  sebab kurban tersebut bertentangan dengan syara’ dari sisi jenisnya.  Dan kurban tersebut tidak sah kecuali dari jenis hewan ternak yaitu  onta, sapi dan kambing.
3. Ukuran. Seandainya seseorang ingin menambah rekaat shalat fardhu  maka dikatakan kepadanya bahwa perbuatan ini adalah bid’ah yang  tidak diterima, sebab perbuatan tersebut bertentangan dengan syara’  dalam sisi ukurannya, maka apalagi jika seseorang shalat zuhur lima  rekaat, misalanya, maka shalatnya tidak sah berdasarkan kesepakatan  para ulama.
4. Cara. Seandainya seseorang berwudhu’ dan memulai wudhu’nya dengan mencuci kedua kakinya, kemudian mengusap kepalanya, kemudian  membasuh kedua tangannya lalu wajahnya, maka dikatakan kepadanya:  Wudhu’mu itu bathal, sebab dia bertentangan dengan syara’ pada sisi  cara.
5. Zaman. Seandainya seseorang menyembelih kurban pada awal zulhijjah,  maka kurban itu tidak akan diterima sebab bertentangan dengan syara’  pada sisi zaman. Sebagian orang bertaqarrub kepada Allah pada bulan  ramadhan dengan menyembelih kambing, maka amalan ini adalah bid’ah  sebab tidak ada tuntunan untuk bertaqarrub kepada Allah dengan cara  menyembelih binatang ternak kecuali menyembelih binatang untuk  kurban, hadyu dan aqiqah. Adapun menyembelih hewan pada bulan  Ramadhan dengan keyakinan bahwa pahalanya sama dengan  menyembelih pada hari idul Adha maka perbuatan ini adalah bid’ah.  Adapun jika menyembelih untuk kebutuhan makan maka hal itu diperbolehkan.
6. Tempat. Seandainya seseorang beri’tikaf di luar mesjid maka i’tikafnya  tidak sah, sebab i’tikaf itu tidak dilaksanakan kecuali di mesjid. Dan seandainya seorang wanita berkata: Aku mau beri’tikaf di tempat shalat yang ada di dalam rumah maka i’tikafnya tidak sah sebab perbuatan itu  bertentangan dengan syara’ pada sisi tampat pelaksanaan ibadah.
Di antara contohnya adalah seandainya seseorang ingin melaksanakan thawaf dan dia mendapatkan tempat thawaf telah penuh, dan begitu juga  dengan tempat disekitarnya, lalu dia thawaf dari luar mesjid, maka  thawafnya tidak sah, sebab tempat thawaf tersebut adalah di mesjid Al-Haram. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Ibrahim Al-Khalil:
“...dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.” (QS. Al-Haj: 26)
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan  salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada  keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.  
Sumber: http://www.hedaya.tv/Buku/Aqidah/Larangan_Melakukan_Bid%E2%80%99ah.aspx
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Larangan Melakukan Bid'ah
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» 7 Larangan Setelah Makan
» [Tantangan] Hanya 5% orang yg bisa melakukan ini "bagaimana dgn detektif?"
» YoYo
» Lima Antivirus!
» Apakah ganti knalpot racing itu akan beresiko di tilang...?

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ENGLISH LEARNING CORNER :: THE DISCUSSION :: ISLAM IS THE BEST-
Navigasi: