ENGLISH LEARNING CORNER

Never Give up Learning
 
IndeksIndeks  AbudiraAbudira  CalendarCalendar  GalleryGallery  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  PendaftaranPendaftaran  GroupGroup  Login  

Share | 
 

 Menjaga Tali silaturrahim

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
minbar global indo
Anggota Aktif
Anggota Aktif


Jumlah posting : 32
Registration date : 13.03.14

PostSubyek: Menjaga Tali silaturrahim   Wed May 14, 2014 1:18 am

Hari ini, pembahasan kita tentang sebuah perkara yang dengannya Allah akan melapangkan rezeki, menambah usia, dan keberkahan harta kita. Perkara itu adalah menyambung kekerabatan dengan orang-orang yang memiliki ikatan rahim dengan kita (silaturrahim). Mereka itu adalah ibu, bapak, anak, dan seluruh orang yang memiliki ikatan pertalian kerabat dengan mereka.
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang kewajiban menyambung silaturrahim dan keharaman memutuskan ikatan kekerabatan. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang menghubungkan ikatan rahim,
{وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الحِسَابِ} [الرعد: 21].
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (mengadakan hubungan silaturrahim dan tali persaudaraan), dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Ar-Ra’d: 21)
Dalam Al-Qur’an, Allah sangat mencela orang-orang yang memutuskan ikatan tersebut.
{وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ اللّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ} [الرعد: 25].
“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” (Ar-Ra'd: 25)
Dalam Al-Qur’an, Allah mengancam orang-orang yang gemar melakukan kerusakan di muka bumi dan memutuskan silaturrahim,
{فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ * أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ} [محمد: 22 – 23].
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan telinga dan dibutakan penglihatannya oleh-Nya.”(Muhammad: 22-23)
Dalam Al-Qur’an, Allah juga berwasiat untuk senantiasa berbuat baik kepada kerabat,
{وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء: 1].
“Dan bertakwalah kepada Tuhanmu yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa’: 1)
Demikianlah serangkaian ayat Allah yang menegaskan kewajiban bersilaturrahim dan haramnya memutuskan ikatan pertalian itu. Maka setelah mengetahui keterangan yang jelas ini, apakah kita masih masuk ke dalam golongan orang-orang yang memutuskan ikatan itu, berkubang di dalam lumpur maksiat dan kesesatan, serta lalai dari perintah Allah?
Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencipatkan makhluk-Nya dan ketika usai dari pekerjaan-Nya itu, Ia berkata kepada “rahim.” “Anda adalah tempat berlindung dari orang-orang yang memutuskanmu. Allah berfirman, ‘Ridhakah kamu jika aku menghubungkan orang-orang yang menghubungkanmu dan memutuskan orang-orang yang memutuskanmu? “Rahim” berkata, ‘Ya’. Allah berfirman, ‘Kalau demikian, maka Aku akan melakukannya.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Penegasan hal ini adalah firman Allah, "Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (HR. Bukhari)  
Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Ar-rahim adalah makhluk yang merupakan bagian yang lekat dengan 'Arsy dan berbicara dengan lisan yang fasih. Ia berkata, “Ya Allah sambunglah orang yang menyambungku dan putuskanlah ora»¼Ërang yang memutuskanku.” Allah berfirman, “Aku adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim dan Aku telah memecah dari nama-Ku ini makhluk-Ku bernama Rahim. Maka barangsiapa yang menyambungnya, niscaya Aku pun akan menyambungnya. dan barangsiapa memutuskannya, maka Aku pun akan memutuskannya.” (HR. Bukhari, dalam Al-Adab)
Dalam sebuah riwayat dinyatakan, Hirkal yang ketika itu belum menjadi Muslim dan tengah melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam, bertanya tentang sifat Rasulullah  dan apa yang beliau perintahkan, maka Abu Sufyan berkata, “Beliau memerintahkan orang-orang untuk menyembah Allah dan meninggalkan ajaran para pendulu. Sebagaimana ia juga menyuruh mendirikan shalat, berlaku jujur, memelihara kehormatan dan menyambung silaturrahim.” (HR. Bukhari)
Hadirin yang dirahmati Allah…
Silaturrahim terwujud dengan berbuat baik kepada kerabat dan tidak melakukan hAl-hal yang tidak disenangi oleh mereka. Silaturrahim adalah tali pengikat agama dan ketakwaan. Ia tercapai dengan saling memberi nasihat, bermusyawarah, saling mengasihi, berbuat baik, melaksanakan kewajiban, mengajar, membimbing, menegakkan amar makruf nahi mungkar, meringankan beban seorang dan melenyapkan sesuatu yang dapat mengganggu mereka.
Silaturrahim adalah sebab dipanjangkannya umur dan bertambahnya rezeki. Demikian itu adalah janji dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang yang tidaklah berkata-kata menurut hawa nafsunya.
Anas Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin jika Allah melapangkan rezeki dan mengharumkan namanya, maka hendaknya ia menjaga silaturrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadirin yang berbahagia…
Apa yang dimaksud dengan menyambung tali silaturrahim? Silaturrahim adalah menyambung kekerabatan dengan orang-orang yang memutuskannya. Demikianlah makna hakiki dari silaturrahim. Adapun menyambung kekerabatan dengan orang-orang yang juga menyambungnya, sesungguhnya bukanlah silaturrahim. Dalam Islam, orang yang melakukan hal ini dinamakan Al-mukafi, yaitu orang yang membalas kebaikan dengan kebaikan yang sama.
Dari penjelasan ini diketahui bahwa keutamaan orang-orang yang melaksanakan silaturrahim lebih besar dari golongan kedua, yaitu orang-orang yang sekadar membalas kebaikan dengan kebaikan yang serupa (Al-mukafi’)  
Silaturrahim adalah perkara yang sangat ditegaskan. Bahkan tidak saja kepada orang-orang Muslim, namun syariat ini pun diperintahkan kepada orang-orang kafir. Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu Anha berkata, “Ibuku datang kepadaku sedang ia adalah seorang musyrik. Maka saya bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku sedang ia adalah seorang musyrik, bisakah saya menyambung kekerabatan dengannya (menemuinya)? Rasulullah menjawab, ‘Sambunglah kekerabatan dengan ibumu.” (HR. Bukhari)
Hadirin yang berbahagia…
Tahukah Anda, apa buah dari silaturrahim? Buah dari syariat ini adalah
1.      Silaturrahim adalah tanda sempurnanya keimanan dan keislaman seorang.
2.      Silaturrahim adalah sebab diluaskannya rezeki dan bertambahnya keberkahan umur.
3.      Silaturrahim adalah hal yang mengundang ridha Allah.
Dari sekian pemaparan yang telah dikemukakan, tahulah kita betapa penting menjaga silaturrahim. Umar Radhiyallahu Anhuberkata,  “Pelajarilah nasab kalian kemudian sambunglah ikatan rahim kalian. Demi Allah, seandainya dua orang yang berseteru mengetahui keutamaan menjaga silaturrahim, niscaya hal itu akan meredam keduanya dari perseteruan itu.” (Tafsir Ath-Thabari, 1/144)
Atha bin Abi Rabaah Radhiyallahu Anhu berkata, “Satu dirham yang saya berikan kepada keluargaku adalah lebih baik bagiku dari seribu dirham yang saya berikan kepada orang lain yang miskin. Seorang bertanya, ‘Wahai Abu Muhammad, apakah meski kerabat itu adalah seorang yang memiliki kekayaan sama denganku? Ia menjawab, ‘Bahkan meski ia itu lebih kaya darimu.” (Makarim Al-Akhlak, Ibnu Abi Dunya, hlm. 62)
Ketika Sa'id Al-Musayyib menyimpan beberapa dinar sebagai tabungan ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidaklah aku mengumpulkan harta ini melainkan untuk menjaga agama dan martabatku. Sesungguhnya, tiadalah kebaikan bagi seorang yang tidak mengumpulkan harta untuk melunasi utang, menyambung tali kekeluargaan dan menjaga kehormatannya.”
‘Amr bin Dinar Rahimahullah berkata, “Ketahuilah, tiadalah langkah yang lebih besar pahalanya setelah langkah untuk melakukan hal yang wajib melainkan langkah untuk menyambung ikatan kekeluargaan.”
Sulaiman bin Musa Rahimahullah berkata, ”Ditanyakan kepada Abdullah bin Muhairiz: Apakah hak rahim? Ia berkata, ‘Hendaklah ia disambut ketika datang dan bila ia pergi hendaklah kembali diraih?”

Silaturrahim merupakan ibadah dengan pahala yang sangat besar, demikian juga seorang yang memutuskan tali kekeluargaan, pun akan memperoleh ganjaran yang setimpal. Seorang yang memutuskan silaturrahim tidak akan masuk surga. Seperti diriwayatkan oleh Jubair bin Muth'im Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,  “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim.” (HR. Bukhari)
Seorang yang memutuskan silaturrahim akan diberi makanan dari bara api neraka. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, seorang laki-laki pernah datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki keluarga yang selalu saja memutuskan tali kekeluargaan denganku ketika aku berusaha menyambungnya, selalu berbuat jahat kepadaku ketika aku berbuat baik kepadanya, dan selalu berupaya tidak mengenalku ketika aku bersikap baik kepadanya. Rasulullah  bersabda, “Kalau benar perkataanmu itu, maka ibaratnya orang itu adalah seorang yang memenuhi dirinya dengan bara api. Allah akan senantiasa menolongmu atas mereka selama kamu tegar degan sikapmu yang baik kepada mereka.”
Memutuskan silaturrahim adalah sebab turunnya laknat Allah.  Allah berfirman,
{فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ* أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ}
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan telinga dan dibutakan penglihatannya oleh-Nya.”(Muhammad: 22-23)
Lebih parah lagi jika  seorang memutuskan silaturrahim dengan orangtuanya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ثلاث مرات، قلنا بلى: يا رسول الله قال الإشراك بالله وعقوق الوالدين».
“Maukah kalian aku kabari tentang sebesar-besarnya dosa kepada Allah? Rasulullah  mengulangnya hingga tiga kali. Maka kami berkata, ‘Ya, wahai Rasulullah.’ Rasulullah bersabda, ‘Dosa itu adalah berlaku syirik kepada Allah dan berbuat durhaka kepada orang tua.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah akan menyegerakan adzab di dunia bagi orang-orang yang memutuskan silaturrahim sebelum ia menerima ganjarannya kelak di akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak satupun dosa yang lebih layak untuk disegerakan balasannya di dunia sebelum kelak ia menerima balasannya di akhirat melainkan dosa seorang pezina, dan dosa seorang yang memutuskan silaturrahim.”
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah…
Objek dari silaturrahim ada tiga tingkatan, yaitu:
1.      Orang-orang taat dan shalih, maka mereka ini adalah golongan yang sepantasnya selalu dijaga hubungan kekerabatan dengannya.
2.      Orang-orang yang gemar melakukan kemaksiatan. Mereka ini terbagi menjadi dua golongan lagi:
a.       Orang-orang yang bangga dan suka mengekspos perilaku maksiatnya. Mereka ini adalah golongan yang hendaknya diboikot dalam rangka ketaatan kepada Allah, kecuali ada maslahat dengan tetap berbuat baik kepadanya, maka tidak mengapa bersikap baik kepadanya.  Allah berfirman,
"إلا أن تتقوا منهم تقاة"،
“Barangsiapa bersikap akrab kepada orang-orang kafir, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah), kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imraan: 28)
b.      Orang-orang yang melakukan kemaksiatan itu tidak secara terang-terangan. Maka terhadap orang ini, tetap dianjurkan menghubungkan silaturrahim dengan mereka apalagi jika ada maslahat dari hal itu dan jika mereka itu adalah keluarga dekat.
c.       Orang-orang kafir dan munafik. Mereka ini juga terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu:
Pertama, golongan yang tengah diperangi. Hubungan silaturrahim dengan mereka ini hendaknya diputuskan kecuali untuk menghindari kejahatan mereka saja.
Kedua, golongan yang tidak sedang diperangi. Hubungan silaturrahim dan sikap baik dengan mereka hendaknya terus dijaga. Namun bagaimana bentuk hubungan silaturrahim dengan mereka? Di antaranya adalah:
1.      Mengerahkan segala cara untuk menasihati dan mengarahkannya ke jalan yang benar.
2.      Mendoakan mereka agar diberi hidayah oleh Allah
3.      Menjaga keharmonisan jalinan silaturrahim selama mereka tidak masuk ke dalam golongan yang tengah diperangi.
Hadirin yang dirahmati Allah…
Marilah kita semua senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjaga dan mempertahankan silaturrahim karena itulah satu di antara sebab terbesar kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, memutuskan silaturrahim adalah satu di antara sebab terbesar kesengsaraan dan musibah di dunia sebelum  merasakannya kelak di akhirat.

Sumber: http://www.minbarindo.com/_Dunia_Minbar/Sosial_Kemasyarakatan/Menjaga_Tali_Silaturrahim.aspx
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Menjaga Tali silaturrahim
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» [WTS] GAS SPONTAN UNTUK SEMUA MOTOR (TDR, KITACO, DAYTONA, BUNGBON)
» OM MOD MOHON DI CLOSED ADA THREADNYA...thank you
» Fungsi gantungan spakbor belakang ninja 250r
» ASK.. URGENT ganti stang bikin kabel kopling ketarik
» ask : gas spontan

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ENGLISH LEARNING CORNER :: THE DISCUSSION :: ISLAM IS THE BEST-
Navigasi: